08117992581

Kebakaran Gambut Indonesia 2026, Api Bisa Membara Berbulan-bulan di Bawah Tanah

$rows[judul] Keterangan Gambar : Peta hotspot dari Sipongi milik kementerian kehutanan. foto/screenshoot sipongi

Kota Metro, A1BOS.COM - Kebakaran lahan gambut tropis termasuk salah satu jenis kebakaran paling berbahaya dan sulit dikendalikan. Api tidak hanya bergerak di permukaan, tetapi bisa membara di dalam tanah yang mengering.

Kondisi itu membuat kebakaran gambut sulit dipadamkan. Api dapat terus bertahan pada suhu relatif rendah sekaligus menghasilkan polusi dalam jumlah besar. Diperkirakan, kebakaran gambut menghasilkan partikel halus tiga kali lebih banyak dibandingkan kebakaran hutan tropis lainnya.

Dikutip dan diadaptasi dari artikel yang membahas citra satelit NASA, data NOAA, serta keterangan sejumlah peneliti mengenai musim kebakaran Indonesia 2026, kondisi kebakaran tahun ini menunjukkan tanda-tanda yang perlu diperhatikan. Aktivitas kebakaran meningkat ketika Indonesia memasuki musim kemarau yang dipengaruhi kondisi El Niño. Pantauan satelit dan data lapangan kemudian memberikan gambaran mengenai bagaimana api menyebar, termasuk kebakaran yang dapat terus membara di bawah permukaan lahan gambut.

Citra Satelit Menunjukkan Kebakaran Mulai Meluas

Musim kebakaran 2026 di Indonesia sudah berlangsung ketika instrumen MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) pada satelit Aqua milik NASA merekam kondisi wilayah Indonesia pada 1 September 2026.

Dalam peta yang telah diberi anotasi, setiap titik merah menunjukkan deteksi kebakaran. Sensor satelit dan algoritma mendeteksi adanya anomali panas pada piksel yang berkaitan dengan kebakaran.

Satu kebakaran bisa menghasilkan beberapa titik deteksi.

Indonesia menghadapi persoalan kebakaran gambut yang terus berulang. Negara ini memiliki sekitar 36 persen lahan gambut tropis dunia.

Dalam kondisi normal, lahan gambut merupakan kawasan yang basah sehingga sulit terbakar. Namun, kekeringan parah dapat mengubah kondisi tersebut.

Selama tiga dekade terakhir, kondisi kering berulang kali memicu kebakaran yang bertahan lama. Asap bahkan dapat menyelimuti wilayah luas selama berminggu-minggu dan mengganggu kehidupan jutaan orang.

El Niño Membuat Musim Kemarau Makin Kering

Kebakaran hutan dan lahan sebenarnya terjadi setiap tahun di Indonesia. Namun, beberapa musim kebakaran paling parah dalam beberapa dekade terakhir terjadi ketika fenomena El Niño berlangsung, terutama pada 1997 dan 2015.

NOAA menilai El Niño masih berlangsung dan menguat pada Agustus 2026. Fenomena iklim tersebut biasanya mengurangi curah hujan di Indonesia.

Kondisi kering bisa menjadi lebih parah ketika El Niño berlangsung bersamaan dengan fase positif Indian Ocean Dipole. Kondisi tersebut juga sedang terjadi.

Robert Field, peneliti Columbia University yang mengembangkan Global Fire Weather Database, mengatakan aktivitas kebakaran pada awal musim 2026 menunjukkan pola yang mengkhawatirkan.

Menurut Field, aktivitas kebakaran baru berlangsung sekitar tiga minggu, tetapi peningkatannya mulai menyerupai kondisi pada 2015.

“El Niño yang kuat membuat musim kemarau semakin kering di wilayah Indonesia yang rawan kebakaran,” kata Field.

Perbandingan dengan 2015 menjadi penting. Setelah kebakaran berlangsung lebih dari tiga bulan pada tahun tersebut, emisi yang dihasilkan mencapai sekitar 1,75 miliar ton setara gas rumah kaca.

Jumlah itu lebih besar daripada emisi Jepang selama setahun penuh.

Pada 2 September 2026, kebakaran telah berlangsung sekitar satu bulan dan diperkirakan sudah menghasilkan emisi sekitar 10 persen dari jumlah yang dilepaskan selama krisis kebakaran 2015.

Api Gambut Bisa Membara di Bawah Tanah

Indonesia juga mengalami kekeringan yang parah dan meluas pada musim panas 2026, seperti yang terjadi pada 2015.

Data badan meteorologi Indonesia menunjukkan sekitar 90 persen wilayah negara itu menerima sedikit atau bahkan tidak menerima hujan pada awal Agustus.

Dalam kondisi normal, lapisan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memungkinkan api bergerak ke bawah tanah.

Kekeringan mengubah keadaan tersebut. Api bisa masuk ke dalam lapisan gambut dan terus membara di bawah permukaan.

“Kalau kebakaran terjadi di permukaan, kekhawatirannya lebih kecil. Tetapi ketika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti,” kata Field.

Menurut dia, api di dalam gambut dapat terus membakar sampai hujan datang pada Oktober atau November.

Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara waktu nyata. MODIS dan VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.

Kementerian Kehutanan juga mengoperasikan platform pemantauan kebakaran SiPongi dengan memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.

Kebakaran Terparah Justru Bisa Sulit Terlihat Satelit

Pemantauan melalui satelit tetap memiliki keterbatasan.

MODIS dan VIIRS dapat kesulitan mendeteksi kebakaran yang tertutup asap tebal atau awan. Api yang berada di bawah tajuk hutan maupun yang membara di dalam gambut juga bisa luput dari pengamatan.

Ironisnya, ketika kebakaran Indonesia menjadi semakin parah, jumlah titik api yang terdeteksi satelit terkadang justru menurun. Asap yang sangat tebal dapat menghalangi pandangan satelit ke permukaan.

Mark Cochrane, ekolog dari University of Maryland Center for Environmental Science yang telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade, mengatakan kondisi tersebut menjadi persoalan serius.

Menurut Cochrane, peristiwa asap terburuk justru bisa menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.

Kerentanan Gambut Dibentuk Selama Puluhan Tahun

Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini berkaitan dengan perubahan kondisi lahan yang terjadi beberapa dekade lalu.

Cochrane menjelaskan, pembangunan kanal irigasi dan pengeringan rawa gambut secara besar-besaran pada 1990-an, antara lain untuk membuka lahan pertanian padi dalam skala besar, menurunkan permukaan air di berbagai kawasan basah.

Akibatnya, lahan menjadi lebih mudah terbakar.

Perkebunan kelapa sawit dan kehutanan tanaman juga tersebar luas di kawasan tersebut.

Setelah musim kebakaran 2015 yang sangat parah, pemerintah dan berbagai organisasi berupaya memperbaiki sebagian kerusakan tersebut.

Upaya yang dilakukan antara lain menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah, memperkuat kemampuan pemadaman kebakaran, serta meningkatkan pencegahan kebakaran yang disebabkan oleh aktivitas manusia.

Musim Kebakaran 2026 Jadi Ujian

Shi Jun Wee, mahasiswa pascasarjana University of Maryland, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian terhadap berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.

Wee bekerja bersama tim NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode yang lebih baik dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak terlihat oleh MODIS dan VIIRS.

Metode tersebut memanfaatkan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.

Selama musim kebakaran 2026 berlangsung, Wee berencana mengikuti perkembangannya menggunakan NASA Worldview, FIRMS (Fire Information for Resource Management System), pengamatan HLS (Harmonized Landsat and Sentinel-2), serta GFED (Global Fire Emissions Database).

Asap Mulai Mengganggu Kehidupan Sehari-hari

Dampak kebakaran sudah dirasakan masyarakat Indonesia dan negara-negara di sekitarnya.

Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.

Sejumlah laporan media menyebut beberapa sekolah mulai menerapkan pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional juga ditutup. Beberapa penerbangan mengalami penundaan akibat asap tebal.

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap persoalan kebakaran biasanya meningkat ketika Indonesia memasuki musim El Niño yang parah. Namun, perhatian itu cenderung kembali menurun ketika kondisi membaik.

Padahal, persoalan kebakaran gambut tidak hanya muncul pada tahun-tahun dengan El Niño.

Menurut Cochrane, penanganannya membutuhkan perhatian yang terus berlanjut, termasuk pada tahun ketika kebakaran tidak terlalu parah. Kebakaran tersebut menghasilkan emisi dalam jumlah sangat besar.(bs)

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)